Pagi Bening
Matahari tak pernah lalai menjemput pagi
dan mengusir embun perlahan serta
mengelupas gelap malam menjadi bening hari
seperti senyum manismu, istriku
yang mengusir embun perlahan
menuju ke cakrawala
saat mengantarku
meniti perjalanan dengan riang
Meraba Bintang
Mendekat kesini anakku,
Mari kita raba bintang dilangit yang hangat
dan rasakan bagaimana karuniaNya
mengalir dashyat dari redup kilaunya yang melenakan
dan lembut mengelus jiwa
seperti binar teduh mata kalian
yang selalu menghimbauku untuk cepat pulang
Dari Balik Jendela Bis
Kaca buram itu memantulkan silau rimba beton
juga kepongahan kota yang tak jua berhenti menggeliat
Dan aku membeku, dikursi penumpang
menatap hampa tanpa kata
sementara suara sumbang sang pengamen bis
mengalun tajam, merajam hati
Ceria di Mata Alya
Pada matamu anakku,
Selalu kubaca desir rindu yang mampu melerai gundah
serta melepas letih dari sesak perjalanan
Pada matamu anakku,
Ada telaga jernih dengan angsa putih bermain riang disana
yang membuatku
tak akan tersesat menemukan jalan pulang
Jejakmu, Lukamu..
Kau pahat muram dilangit hitam dengan geram
lalu kau buat gairahku berkelindan kusut
dengan tikaman matamu yang membara
“Sudahlah. Sampai disini saja,” tukasmu getir
Dan sisa jejakmupun menyisakan luka
yang tak jua hilang meski gerimis telah usai